Sebuah Tanya - Puisi Soe Hok-Gie 1 April 1969

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu?
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi…
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara…
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita

Apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu…
kita begitu berbeda dalam semua…,
kecuali dalam cinta

(Haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram…
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)

Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru…

Soe Hok-Gie

[Selasa, 1 April 1969]